Nama  : Nurul Ferizka Utami

NRP : G64100053

Laskar : 12

Pro-Kontra ‘Food Estate’

Rencana pemerintah memberikan lampu hijau kepada swasta baik dalam negeri dan asing menanamkan modalnya pada usaha budidaya tanaman pangan patut dicermati. Bahkan berbagai kalangan pun masih pro kontra terhadap invetasi besar-besaran di sektor yang selama ini menjadi penyedia hajat hidup orang banyak.

Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI), Hendri Saragih menyesalkan langkah yang diambil pemerintah untuk mendongkrak produksi padi nasional melalui program food estate. Pengembangan food estate justru bertentangan dengan upaya pemerintah mendorong ekonomi kerakyatan, khususnya ekonomi kaum tani.

Menurutnya, dengan adanya pembukaan food estate, maka karakter pertanian dan pangan Indonesia makin bergeser dari peasant-based and family-based agriculture menjadi corporate-based food dan agriculture production. Kondisi ini justru melemahkan kedaulatan pangan Indonesia.

Apalagi, nilai Hendri, pertumbuhan produksi padi yang dalam dua tahun terakhirr cukup besar itu masih patut dipertanyakan. Dari hasil kajian SPI, malah terlihat tidak nampak adanya pertumbuhan produksi yang signifikan. Rata-rata produksi padi di daerah hanya 4,06 ton gabah kering panen (GKP) per hektare.

Sementara di sejumlah daerah seperti Bogor, Cirebon, Pati dan Kudus jumlahnya lebih rendah dari 4 ton/ha. Rendahnya produksi padi di beberapa daerah itu karena berbagai faktor, mulai dari sempitnya lahan kepemilikan hingga bencana banjir dan kekeringan.

Hal lain yang membuat pertumbuhan produksi padi dipertanyakan adalah karena laju konversi lahan pertanian yang sangat pesat hingga mencapai 100.000 ha/tahun. Padahal, di sisi lain, pencetakan sawah baru hanya sekitar 35.000 ha/tahun. “Anehnya, laporan luas panen tidak menurun, tapi justru terus meningkat,” kata Hendri mempertanyakan.

“Memang pemerintah melakukan beberapa upaya meningkatkan produksi pangan nasional, khususnya padi. Tapi, sayangnya, pemerintah justru mendorong program food estate. Padahal, permasalahan utama pertanian kita adalah rendahnya kepemilikan lahan pertanian,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), Winarno Tohir menilai, secara konsep pengembangan food estate cukup bagus. Sebab, dalam draf Peraturan Pemerintah tersebut, investor yang akan membangun food estate harus melibatkan petani.

Dengan demikian, bagi petani akan lebih mudah karena dalam pengelolaan food estate, petani akan mendapatkan kepastian pasokan sarana produksi seperti pupuk dan benih. Begitu juga persoalan permodalan petani tidak akan menghadapi kendala. “Bahkan, pemasaran terhadap hasil dari food estate juga sudah bisa diantisipasi,” katanya kepada Agro Indonesia

Nama : Nurul Ferizka Utami

NRP : G64100053

Laskar : 12

Waktu aku di SMA, aku ikut kegiatan ekstrakulikuler  Paduan Suara. Awalnya sangat menyenangkan,  tapi lama kelamaan banyak dri temanku yang tidak ikut lagi. Ketika aku kelas dua SMA, aku dipilih menjadi ketua Paduan Suara. Ketika menyandang predikat itu, aku merasa mendapat beban yang sangat berat. Aku berusaha berfikir apapun demi kebaikan paduan suara yang aku pimpin. Dengan anggota yang banyak mulai berkurang, aku mulai merasa down. Aku merasa telah gagal dalam memimpin suatu kepercayaan yaang dikasih. Tapi aku berfikir ulang, aku befikir untuk tidak menyerah, aku harus bersikap profesional dalam menjalani suatu tanggung jawab seperti layaknya ranting dalam pohon. Aku harus profesional dalam bertindak. Akhirnya aku bangkit dan mulai menjalankan program-program baru dalam keorganisasian paduan suara.

Dari sinilah aku berfikir bahwa sikap profesional sangat diperlukan dalam hal apapun yang kita kerjakan, bahkan dalam suatu organisasi

Nama : Nurul Ferizka Utami

NRP : G64100053

Laskar : 12

Om saya tinggal di Tangerang. Ia memiliki kebun yang sangat luas. Dikebun itu ditanami berbagai macam sayuran, buah2an, dan masih banyak lagi. Ketika panen, om saya membagi-bagikan hasil panennya untuk keponakan-keponakannya. Om saya tu sangat suka dengan pertanian. Beliau berkata dengan bertani kita bias mendapat suatu kepuasan bila hasil dari kebun kita berhasil dan mendapat nilai jual yang tinggi bila dijual kepasar. Hal tersebut bias juga dijadikan sebagai hobby dan pekerjaan juga. Hal itu membuat saya berfikir bahwa enak juga seperti om saya tersebut

Saya terinspirasi dari cerita tersebut, bahwa kita harus cinta pertanian. Seperti layaknya pohon yang sedang berkembang. Karena hasil dari pertanian tersebut dapat kita nikmati hasil jerih payah kita dari menanam, menyirami setiap hari dan juga seperti ada satu kepuasaan.